Portal Berita Online

DPRD Lampung Selatan Warning PT Ciomas Japfa Food


LAMPUNG SELATAN - Polemik jam waktu meledak di Kecamatan Sidomulyo. 219 kepala keluarga yang bertahun-tahun jadi tulang punggung PT Ciomas Japfa Food mendadak bingung. Kontrak vendor habis, nasib pekerja digantung tanpa kejelasan.

PT Ciomas Adisatwa, anak usaha raksasa Japfa Comfeed yang katanya "tumpuan ekonomi warga", kini dituding buang pekerja kayak tisu bekas. Pabrik tetap jalan 24 jam, mesin nggak berhenti, truk hilir mudik. Tapi yang muterin mesin bukan lagi tangan-tangan anak pengabdi.

Isak tangis pecah di warung kopi Sidomulyo. Salah satu mantan karyawan dengan suara bergetar ngadu kepada jurnalis, Sabtu (20/6/2026).

"Kami kecewa sudah ngabdi. Pas kontrak vendor selesai, kami langsung dicoret tanpa kejelasan. Sekarang malah buka lowongan harian lepas. Kami khawatir cuma iming-iming karena terdesak. Kami yang udah hafal seluk-beluk pabrik kenapa ditinggalkan," ujar salah satu pekerja.

Koordinator perwakilan pekerja Amirudin nggak terima. Senin besok, gabungan 219 pekerja dan GPMM bakal kepung kantor PT Ciomas Japfa Food. Tuntutannya satu kata: diprioritaskan!

"Jangan perusahaan cuma ngasih polusi + limbah ke Sidomulyo, tapi nggak ngasih nasi ke perut warga sini. Kami siap kerja sistem apa aja - borongan, harian, kontrak. Asal pekerja lokal diprioritaskan!" tegas Amirudin.

Ketum Gali Heru Herwanto ikut ngawal: "Kami kawal aspirasi pekerja. Tanpa kejelasan setelah kontrak vendor berakhir. Kami harap pekerja lama dipekerjakan lagi tanpa tebang pilih. Jangan kasih harapan palsu pas lagi mendesak," cetusnya.

DPRD Lamsel Turun Tangan - Beri Warning

Anggota Komisi VI DPRD Lampung Selatan Agus Sartono nggak tinggal diam. Lihat polemik ini, dia langsung tembak warning keras ke PT Ciomas Adi Satwa Japfa Food.

"Perusahaan harus memberikan ruang kembali terhadap nasib pekerja yang selama ini sudah mengabdi, terutama masyarakat lokal," tegas Agus. (Is)

Share:

Ratusan Pekebun Sawit Batubara-Asahan Digembleng Enam Hari Tingkatkan Produktivitas Nasional

 


Medan - Sebanyak 119 pekebun sawit swadaya dari Kabupaten Batubara dan Asahan resmi mengikuti Pelatihan Budidaya Sawit selama enam hari, 17-22 Juni 2026, di Le Polonia Hotel Medan.


Pelatihan yang terbagi dalam empat kelas ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi pekebun agar produktivitas kebun sawit rakyat semakin tinggi dan berkelanjutan.

Pembukaan pelatihan berlangsung meriah diawali penampilan Tarian Olop Olop. Kegiatan kemudian dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Asahan, Ir. Hazairin, M.M.

"Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pekebun sehingga mampu mengelola kebun secara lebih baik dan produktif," ujarnya.

Program tersebut merupakan bagian dari 100 kelas pelatihan yang diselenggarakan LPP Agro Nusantara sepanjang 2026 dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Secara nasional, sebanyak 3.022 pekebun sawit dari tujuh provinsi ditargetkan mengikuti pelatihan serupa.

Subject Matter Expert LPP Agro Nusantara, Dede Yudo Kurniawan, menegaskan pelatihan tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga membangun kemampuan praktis peserta.

"Dengan kembali berjalannya program pelatihan ini, kami harap LPP Agro Nusantara bisa menjadi pendamping dalam meningkatkan keterampilan dan kemampuan pekebun sawit swadaya," kata Dede.

Sebagai penguatan materi, seluruh peserta dijadwalkan mengikuti field trip ke PT Adolina Perbaungan.

"Melalui kunjungan lapangan ini, peserta dapat melihat langsung penerapan praktik budidaya yang baik di perkebunan sehingga materi yang diterima selama pelatihan bisa diaplikasikan di kebun masing-masing," jelas penyelenggara.

Program ini dinilai penting karena produktivitas sawit rakyat masih menjadi tantangan nasional.

Meski kebun sawit swadaya mencakup sekitar 40 persen dari total luas perkebunan sawit Indonesia, kontribusi produksi minyak sawit mentah (CPO) baru berkisar 30-35 persen.

"Melalui pelatihan intensif ini, BPDP dan Ditjenbun menargetkan pekebun memiliki keterampilan yang lebih baik sehingga usaha sawit rakyat semakin berdaya saing, produktif, dan berkelanjutan," demikian komitmen penyelenggara. (Lis)

Share:

Kontrak Berakhir, Ratusan Eks Pekerja PT Ciomas Japfa Food Minta Kembali Bekerja


LAMPUNG SELATAN - Nasib 219 mantan pekerja PT Ciomas Japfa Food di Kecamatan Sidomulyo,  Lampung Selatan, kini berada dalam ketidakpastian.

Hal itu setelah berakhirnya kontrak vendor yang selama ini menaungi mereka. Ratusan pekerja yang sebagian besar merupakan warga sekitar perusahaan mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait peluang untuk kembali bekerja.

Kondisi tersebut memicu keresahan di tengah masyarakat. Pasalnya, para pekerja yang telah bertahun-tahun menggantungkan penghasilan dari perusahaan tersebut kini harus menghadapi kenyataan kehilangan mata pencaharian tanpa adanya kepastian mengenai langkah selanjutnya.

Salah seorang mantan pekerja mengaku kecewa dengan situasi yang terjadi. Menurutnya, para pekerja yang telah memiliki pengalaman dan memahami operasional perusahaan seharusnya mendapatkan perhatian dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

"Kami sudah lama bekerja di sana dan paham pekerjaan di pabrik. Ketika kontrak vendor berakhir, kami berharap ada kejelasan. Kami mendengar ada kebutuhan tenaga kerja baru, sehingga kami berharap bisa diprioritaskan," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (20/6/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas produksi di PT Ciomas Japfa Food masih berjalan normal. Operasional pabrik tetap berlangsung sebagaimana biasa, sementara di sisi lain beredar informasi mengenai pembukaan lowongan tenaga kerja harian lepas.

Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan mantan pekerja yang berharap perusahaan dapat mengutamakan tenaga kerja yang sebelumnya telah mengabdi dan memiliki pengalaman kerja di lingkungan perusahaan tersebut.

Koordinator perwakilan pekerja, Amirudin, menyampaikan bahwa pihaknya bersama sejumlah elemen masyarakat berencana menyampaikan aspirasi secara langsung kepada manajemen perusahaan pada Senin mendatang.

"Kami hanya meminta agar perusahaan memberikan prioritas kepada tenaga kerja yang sebelumnya telah bekerja. Kami siap mengikuti sistem kerja yang berlaku, baik harian lepas, kontrak maupun mekanisme lainnya. Yang kami harapkan adalah kesempatan untuk kembali bekerja," tegasnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Gabungan Pekerja, Mahasiswa dan Masyarakat (GPMM), Heru Herwanto, menyatakan pihaknya akan terus mengawal aspirasi para pekerja yang terdampak berakhirnya kontrak vendor.

"Kami berharap ada komunikasi yang baik dan solusi yang berpihak kepada para pekerja. Mereka telah mengabdi selama bertahun-tahun dan tentu berharap mendapatkan kesempatan kembali bekerja sesuai kebutuhan perusahaan," ujarnya.

Para mantan pekerja juga berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait, khususnya Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lampung Selatan, dapat memfasilitasi dialog antara perusahaan dan para pekerja guna mencari solusi terbaik bagi semua pihak.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen PT Ciomas Japfa Food belum memberikan keterangan resmi terkait nasib 219 mantan pekerja tersebut maupun informasi mengenai proses rekrutmen tenaga kerja yang sedang berjalan.

Redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak perusahaan.(Is)

Share:

Pentas Seni HELAU Lampung Selatan Diduga Abaikan Fasilitas Publik


LAMPUNG SELATAN - Pentas seni HELAU, yang diadakan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di kawasan Bundaran Tugu Pancasila, Kelurahan Way Urang, Kalianda,  Lampung Selatan pada Jum’at malam 19 Juni 2026, dipadati ratusan Pengunjung.

Kehadiran pengunjung yang semakin ramai turut membawa dampak positif bagi pelaku usaha kecil dan pedagang di sekitar lokasi. Aktivitas ekonomi yang sempat lesu pun mulai kembali menggeliat seiring banyaknya orang yang datang menikmati pertunjukan seni di suasana malam.

Namun, di balik semaraknya panggung serta meningkatnya aktivitas ekonomi bagi warga, kondisi kawasan yang menjadi lataran utama kegiatan itu justru menuai sorotan. Masyarakat menilai salah satu ikon penting Kabupaten Lamsel ini terlihat kurang terawat dan jauh dari kesan sebagai wajah ibu kota kabupaten.

Pasalnya, sejumlah fasilitas yang dulunya menjadi daya tarik kawasan itu kini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lampu penerangan pada air mancur yang dulu memperindah suasana malam hari diketahui sudah lama tidak menyala. Begitu juga dengan air mancur pusat, yang kini tidak lagi beroperasi secara optimal.

Tak hanya disitu saja, kerusakan pada tubuh Tugu Pancasila akibat aksi vandalisme beberapa bulan lalu hingga kini belum terlihat adanya perbaikan. Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan di kalangan publik mengenai komitmen pemerintah daerah dalam merawat aset dan simbol daerah yang dibangun menggunakan anggaran negara.

Ironisnya lagi, di saat pemerintah mulai menghidupkan kembali ruang publik lewat berbagai kegiatan, fasilitas yang menjadi identitas kawasan justru terkesan terabaikan.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, saat dikonfirmasi di lokasi mengakui bahwa saat ini belum tersedia anggaran khusus untuk pemeliharaan tugu, monumen, maupun fasilitas penerangan di kawasan tersebut.

Meski begitu, ia menyebut Pemkab Lampung Selatan telah menyiapkan rencana besar untuk melakukan revitalisasi menyeluruh kawasan Bundaran Tugu Pancasila dengan konsep pembangunan alun-alun Kalianda. Program itu dianggarkan sekitar Rp 30 miliar yang bersumber dari APBD Tahun 2026.

Namun, rencana tersebut justru menyisakan banyak tanda tanya. Hingga saat ini belum ada kepastian kapan pekerjaan itu akan dimulai. Nyoman menjelaskan bahwa ia tidak mengetahui jadwal pelaksanaannya karena hal itu menjadi kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lampung Selatan.

Nyoman juga belum dapat memastikan apakah Tugu Pancasila yang menjadi ikon kawasan itu akan dipugar dan dipertahankan keberadaannya, atau justru mengalami perubahan bentuk dalam konsep baru yang sedang dirancang.

Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa proyek senilai puluhan miliar rupiah itu masih sebatas wacana, belum disertai kejelasan teknis di lapangan. Sementara itu, kerusakan fasilitas yang ada terus menjadi pemandangan sehari-hari warga.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah menetapkan Pentas Seni Budaya HELAU, sebagai agenda rutin setiap Jum’at malam. Untuk mendukung kegiatan itu, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 3 juta setiap kali pelaksanaannya, yang digunakan untuk konsumsi, sewa peralatan suara, serta honorarium para seniman dan petugas.

Kebijakan ini pun memicu diskusi di tengah masyarakat terkait prioritas penggunaan anggaran daerah. Di satu sisi pemerintah berusaha menghidupkan ruang publik, namun di sisi lain fasilitas penunjang dan ikon daerah justru belum mendapatkan perhatian perbaikan yang layak.

Masyarakat berharap rencana revitalisasi yang telah diumumkan tidak berhenti sebagai janji semata. Terlebih, kawasan Bundaran Tugu Pancasila bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wajah Kabupaten Lampung Selatan yang dilihat oleh warga maupun tamu yang berkunjung.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari Dinas PUPR terkait desain akhir, tahapan pelaksanaan, maupun target waktu penyelesaian proyek senilai Rp 30 miliar tersebut. (Is)

Share:

Pentas Seni Budaya Helau Lampung Selatan Diapresiasi Banyak Pihak


LAMPUNG SELATAN - Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus berkomitmen menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kekayaan seni budaya daerah melalui kegiatan rutin Pentas Seni Budaya Helau.

Kegiatan ini mendapatkan tanggapan yang sangat positif dari masyarakat hingga pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) setempat.

Pentas ini berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga 21.00 WIB sampai selesai. Pada Jum’at malam (19/06/2026).

Awalnya dibuka oleh Supriyanto Sekretaris Daerah Kabupaten Lamsel, kala itu. digelar di Gedung Olahraga Way Handak (GWH), Kalianda, kini lokasi kegiatan dipindahkan dan berlangsung secara rutin di kawasan Tugu Pancasila Kabupaten Lampung Selatan.

Ruang Ekspresi Seniman dan Sarana Dekatkan Budaya.

Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi para seniman lokal untuk menampilkan karya dan bakatnya. Selain itu, Pentas Seni Budaya Helau juga berperan sebagai jembatan yang mendekatkan kembali nilai-nilai budaya daerah kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

Berbagai pertunjukan kesenian khas Lampung Selatan ditampilkan secara bergantian, sehingga warga dapat menikmati tontonan yang menghibur sekaligus menambah wawasan tentang warisan leluhur.

Pernyataan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan, Dr. I Nyoman Setiawan, dalam keterangannya menyampaikan tujuan utama diselenggarakannya kegiatan ini.

“Pentas Seni Budaya Helau kami hadirkan sebagai wujud nyata upaya melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya asli Lampung Selatan. Kami ingin budaya ini tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi terus hidup dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemindahan lokasi ke Tugu Pancasila dilakukan agar lebih mudah diakses oleh warga dari berbagai wilayah, serta menciptakan pusat kegiatan budaya yang lebih strategis.

"Selain melestarikan budaya, kami juga merancang kegiatan ini agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar. Oleh karena itu, kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pelaku UKM dan pedagang lokal untuk ikut serta memamerkan dan menjual produknya di lokasi acara,” jelasnya.

Pihaknya berkomitmen untuk terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas kegiatan ini agar semakin menarik dan memberikan dampak yang lebih luas.

Berdampak Positif Bagi Ekonomi Warga.

Tidak hanya memperkuat identitas budaya, kehadiran kegiatan ini juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian warga sekitar. Para pelaku UKM dan pedagang kecil memanfaatkan keramaian pengunjung untuk menawarkan berbagai produk kerajinan tangan, makanan khas, dan barang dagangan lainnya.

Salah satu pedagang di lokasi, Susi pemilik angkringan “Besti”, mengaku sangat merasakan manfaatnya. “Selain bisa menikmati kesenian secara gratis, kami juga bisa menjajakan dagangan. Kegiatan ini menghidupkan suasana sekaligus membantu perekonomian warga,” ungkapnya.

Dukungan ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan. (Is)

Share:

Bupati Lampung Selatan Apresiasi Seminar Nasional Bedah Buku Babad Alas


LAMPUNG SELATAN - Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menggelar Seminar Nasional Bedah Buku Babad Alas yang menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto, sebagai narasumber utama di Aula Krakatau, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (19/6/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, Wakil Bupati Lampung Selatan, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, para staf ahli bupati, asisten sekda, kepala OPD, camat, pimpinan BUMD, tokoh masyarakat, serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Lampung.

Dalam sambutannya, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar nasional yang dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi sejarah dan menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya bangsa.

“Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya Seminar Nasional Bedah Buku Babad Alas ini. Kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas daerah dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda,” ujar Egi.

Menurutnya, sejarah memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan daerah. Dengan memahami perjalanan masa lalu, masyarakat dapat mengambil nilai-nilai positif untuk menghadapi tantangan masa depan.

“Sejarah adalah kompas pembangunan. Kita tidak boleh melupakan akar budaya dan jati diri daerah di tengah derasnya arus modernisasi. Melalui buku Babad Alas, kita diajak memahami perjalanan, perjuangan, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu sebagai bekal membangun Lampung Selatan yang maju dan berkarakter,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa sejarah dan budaya merupakan fondasi penting dalam membangun bangsa yang kuat dan berdaya saing.

“Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber pembelajaran untuk menata masa depan. Buku Babad Alas menghadirkan narasi penting tentang perjalanan masyarakat dan nilai-nilai lokal yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Bima Arya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

“Pembangunan tidak hanya berbicara soal infrastruktur dan ekonomi. Kita juga harus memastikan bahwa identitas, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya turut memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan sektor pendidikan dan pariwisata berbasis budaya di Lampung Selatan.

Menurutnya, kekayaan sejarah yang dimiliki daerah dapat menjadi modal besar untuk membangun kualitas pendidikan sekaligus meningkatkan daya tarik wisata.

“Lampung Selatan memiliki potensi besar, baik dari sisi sejarah, budaya, pendidikan maupun pariwisata. Potensi ini harus terus dikembangkan secara terintegrasi. Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam meneliti, mendokumentasikan, dan mengembangkan kekayaan sejarah serta budaya daerah agar menjadi sumber pengetahuan sekaligus daya tarik wisata yang bernilai tinggi,” ungkapnya.

Bima Arya menilai, daerah yang mampu menjaga dan mengangkat sejarahnya akan memiliki identitas yang kuat di tengah persaingan global.

“Ketika sejarah dan budaya dikemas melalui pendidikan, penelitian, dan pengembangan destinasi wisata, maka akan lahir nilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya melihat Lampung Selatan memiliki modal besar untuk itu,” tegasnya.

Ia juga mendorong perguruan tinggi untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menghasilkan kajian dan inovasi yang mendukung pembangunan berbasis kearifan lokal.

“Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat harus berjalan bersama. Hasil kajian akademik harus menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pembangunan, termasuk pengembangan sektor pariwisata dan pelestarian budaya lokal,” tambahnya.

Seminar nasional tersebut turut diikuti akademisi dari Universitas Indonesia Mandiri (UIM), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Universitas An-Nur, Universitas Muhammadiyah Kalianda, serta STAI Yasba Kalianda. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas nilai historis, budaya, dan relevansi isi buku Babad Alas terhadap pembangunan daerah.

Melalui seminar ini, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berharap semangat literasi sejarah dan pelestarian budaya dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi dalam mewujudkan pembangunan daerah yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal. (Red)

Share:

Bedah Buku Babad Alas di Lampung Selatan, Bima Arya dan Bupati Radityo Egi Dorong Lahirnya Pemimpin Masa Depan

 


LAMPUNG SELATAN - Seminar Nasional Bedah Buku Babad Alas karya Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Bima Arya Sugiarto, menjadi ruang berbagi pengalaman kepemimpinan sekaligus penguatan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Krakatau, Kantor Bupati Lampung Selatan, Jumat (19/6/2026), dihadiri Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama bersama Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto, akademisi, mahasiswa, serta unsur Forkopimda.

Seminar tersebut mengupas isi buku Babad Alas yang memuat refleksi perjalanan Bima Arya selama satu dekade memimpin Kota Bogor. Melalui pendekatan ideologi, strategi, dan taktik pemerintahan, buku tersebut menawarkan berbagai pembelajaran mengenai kepemimpinan, tata kelola pemerintahan, hingga pelayanan publik.

Turut hadir sebagai pengulas buku Feni Rosalia, Rektor Universitas Indonesia Mandiri, perwakilan Universitas Muhammadiyah Kalianda, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yayasan Pembangunan Kalianda, Universitas An-Nur, serta para mahasiswa dan akademisi.

Kegiatan dimoderatori Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Tri Umaryani.

Dalam sambutannya, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki bangsa.

Menurut Egi, negara maju tidak hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga kemampuan masyarakatnya dalam mengelola dan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada.

Ia menilai, buku Babad Alas menyajikan banyak pelajaran berharga mengenai tantangan, dinamika, dan proses pengambilan keputusan yang dihadapi seorang pemimpin dalam menjalankan pemerintahan.

“Pengalaman yang tertuang dalam buku Babad Alas memberikan pelajaran bahwa perubahan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian mengambil langkah, membangun kolaborasi, dan bekerja secara konsisten untuk mencapai tujuan yang lebih besar,” ujar Egi.

Lebih lanjut, Egi mengajak mahasiswa dan civitas akademika untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, serta mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang berintegritas, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto menjelaskan bahwa Babad Alas merupakan catatan perjalanan kepemimpinannya selama 10 tahun memimpin Kota Bogor yang berangkat dari semangat pemerintahan yang bersih dan melayani masyarakat.

Menurut Bima, ideologi kepemimpinan harus diterjemahkan ke dalam strategi yang tepat agar mampu menghasilkan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

“Pemimpin adalah agen harapan. Ideologi tanpa strategi tidak akan efektif. Harapan itu harus dicicil melalui kerja-kerja nyata dan dibangun bersama tim yang loyal, solid, militan, dan kompeten,” kata Bima.

Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya juga mengapresiasi berbagai terobosan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama, terutama dalam pembenahan sektor pendidikan, pembangunan infrastruktur, serta upaya memperkuat identitas daerah.

Melalui seminar nasional ini, diharapkan lahir berbagai gagasan, inspirasi, dan pembelajaran yang dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk membangun kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat demi menyongsong Indonesia Emas 2045. (Is-Kmf)

Share:

Popular

NASIONAL$type=complex$count=4

Arsip Blog

Recent Posts