Portal Berita Online

Panen Tomat di Lapas Kalianda, Warga Binaan Kembangkan Keterampilan dan Kemandirian Pertanian


KALIANDA – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kalianda melaksanakan kegiatan panen tomat di area pembinaan kemandirian pertanian Lapas Kelas IIA Kalianda, dengan melibatkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), peserta magang, dan petugas pemasyarakatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan keterampilan pertanian sekaligus upaya memanfaatkan lahan secara produktif untuk mendukung ketahanan pangan, Sabtu (31/10/2026).

Sebelum memasuki masa panen, tanaman tomat dirawat secara bersama-sama melalui kegiatan penyiraman dan pemeliharaan rutin. Proses tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk mengenal tahapan budidaya tanaman, mulai dari perawatan hingga menghasilkan buah yang siap dipanen.

Hasil panen tomat menjadi bukti dari proses yang dijalani dengan ketekunan dan tanggung jawab. Lebih dari sekadar menghasilkan produk pertanian, kegiatan ini juga memberikan pengalaman dan keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Kalapas Kelas IIA Kalianda, Badarudin, menyampaikan bahwa pembinaan melalui kegiatan pertanian diharapkan mampu menumbuhkan kemandirian dan memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.

“Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga dilatih untuk memiliki kedisiplinan, tanggung jawab, dan keterampilan yang bermanfaat. Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” ujar Kalapas.

Lapas Kalianda terus mendorong kegiatan pembinaan kemandirian yang produktif dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mempersiapkan warga binaan menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Bukan cuma menanam harapan, hari ini kita panen hasilnya!

(HumasPaskal)

Share:

Tak Hanya Sukses Jadi Tuan Rumah MTQ ke-53, Lampung Selatan Tembus Tiga Besar


LAMSEL, Kalianda - Kabupaten Lampung Selatan tidak hanya sukses menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-53 tingkat Provinsi Lampung Tahun 2026, tetapi juga berhasil meraih peringkat ketiga dalam ajang keagamaan tingkat provinsi tersebut.

Kabupaten berjuluk “Beranda Sumatra” ini pun mencatatkan capaian membanggakan, sekaligus melengkapi keberhasilan penyelenggaraan MTQ tahun ini.

Berdasarkan hasil penilaian dewan hakim, Kabupaten Tanggamus berhasil meraih juara umum, disusul Kota Bandar Lampung di posisi kedua, sementara Kabupaten Lampung Selatan berada di peringkat ketiga.

Hasil akhir tersebut diumumkan dalam acara penutupan MTQ ke-53 tingkat Provinsi Lampung yang berlangsung di GOR Way Handak, Kalianda, Jumat malam (30/10/2026).

Prosesi penutupan ditandai dengan pemukulan gong dan penyerahan piala bergilir Gubernur Lampung oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Muhammad Firsada, kepada Bupati Tanggamus, Mohammad Saleh Asnawi, sebagai juara umum.

Mewakili Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh kabupaten/kota yang berhasil meraih prestasi pada MTQ ke-53 tahun ini.

Menurutnya, capaian yang diraih para peserta merupakan hasil dari kerja keras, kedisiplinan, ketekunan, serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan di masing-masing daerah.

"Semoga capaian ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan generasi Qurani dan mempertahankan prestasi pada ajang-ajang MTQ berikutnya," kata Supriyanto.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh qari dan qariah, hafiz dan hafizah, mufassir dan mufassirah, serta peserta dari berbagai cabang perlombaan yang telah berjuang dan menunjukkan kemampuan terbaik selama kompetisi berlangsung.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Lampung sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Lampung, Muhammad Firsada, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan atas keberhasilannya menjadi tuan rumah MTQ ke-53.

Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung, ia juga mengapresiasi dewan hakim dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut sehingga seluruh rangkaian MTQ dapat berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.

"Sejak dibukanya ajang ini, kita telah menyaksikan ketelitian hafalan serta kedalaman Al-Qur'an dari putra-putri terbaik Provinsi Lampung," ujarnya.

MTQ ke-53 tingkat Provinsi Lampung menjadi momentum untuk memperkuat syiar Islam, mempererat silaturahmi antardaerah, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pembinaan generasi Qurani.

Bagi Kabupaten Lampung Selatan, keberhasilan menjadi tuan rumah yang diiringi capaian peringkat ketiga menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan pembinaan keagamaan dan melahirkan generasi yang unggul dalam memahami, menghafal, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an. (Kmf)

Share:

Sengketa Lahan di Natar, Kuasa Hukum Soroti Proses Jual Beli Tanah


LAMPUNG SELATAN – Kuasa hukum penggugat, Meriantony, S.H., kembali menyoroti proses jual beli objek tanah yang menjadi pokok sengketa warisan di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Dalam keterangannya pada Jumat (30/10/2026), Meriantony mempertanyakan proses transaksi jual beli antara para tergugat dengan Turut Tergugat I melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Ia menekankan pentingnya pembuktian apakah pembeli benar-benar telah menjalankan prinsip kehati-hatian sebelum melakukan transaksi.

Menurutnya, seseorang yang mengaku sebagai pembeli beriktikad baik tidak cukup hanya menunjukkan bahwa transaksi dilakukan melalui PPAT. Namun, perlu dibuktikan pula apakah sebelum transaksi dilakukan, pembeli telah memeriksa secara menyeluruh objek tanah yang dibeli, termasuk status hukum, riwayat kepemilikan, serta kondisi fisik tanah tersebut.

"Sebagai pembeli yang beriktikad baik, apakah sebelum melakukan transaksi di hadapan PPAT sudah terlebih dahulu mengecek objek jual beli dan memastikan status hukumnya? Kemudian, pada saat pengukuran objek tanah, apakah melibatkan RT, kepala lingkungan, serta kepala desa setempat?" demikian pokok pertanyaan yang disampaikan Meriantony.

Ia juga kembali mempertanyakan mekanisme proses jual beli yang dilakukan para tergugat dengan Turut Tergugat I melalui Turut Tergugat II, yang kemudian diproses oleh Turut Tergugat III.

Menurutnya, rangkaian proses tersebut perlu dijelaskan secara terbuka, terutama untuk memastikan apakah seluruh tahapan administrasi dan prosedur pertanahan telah dilaksanakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Meriantony menduga terdapat sejumlah hal dalam proses jual beli tersebut yang perlu diuji kesesuaiannya dengan mekanisme hukum pertanahan. Karena itu, ia meminta pihak-pihak terkait memberikan penjelasan mengenai asal-usul tanah, dasar penguasaan, riwayat peralihan hak, hingga proses penerbitan dokumen pertanahan.

"Perlu ada penjelasan secara terang benderang mengenai bagaimana awal mula proses tanah tersebut, bagaimana riwayatnya, siapa yang menguasai, siapa yang melakukan transaksi, serta bagaimana proses administrasi hingga akhirnya terjadi jual beli," tegasnya.

Sorotan terhadap Aturan Hukum

Dalam persoalan ini, terdapat sejumlah ketentuan hukum yang relevan untuk menjadi bahan pengujian dalam persidangan.

Pertama, Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang mengatur bahwa suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik.

Kedua, Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2016, yang memberikan pedoman mengenai kriteria pembeli beriktikad baik. Salah satu prinsipnya adalah pembeli wajib melakukan kehati-hatian dengan meneliti hak penjual, status objek tanah, serta riwayat hubungan hukum tanah dengan pemegang sertifikat.

Ketiga, Pasal 37 ayat (1) PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, yang mengatur bahwa peralihan hak atas tanah melalui jual beli pada prinsipnya hanya dapat didaftarkan apabila dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT.

Keempat, Pasal 39 ayat (1) huruf f PP Nomor 24 Tahun 1997, yang mengatur kewajiban PPAT menolak membuat akta apabila objek perbuatan hukum sedang dalam sengketa mengenai data fisik dan/atau data yuridisnya.

Selain itu, apabila ditemukan adanya perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian, Pasal 1365 KUHPerdata juga dapat menjadi dasar pengujian gugatan perdata, sepanjang unsur-unsurnya dapat dibuktikan.

Ketentuan-ketentuan tersebut bukan berarti telah terbukti terjadi pelanggaran hukum. Namun, menjadi dasar untuk menguji apakah proses jual beli dan administrasi pertanahan dalam perkara ini telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Sepuluh Tahapan Mekanisme Jual Beli Tanah hingga Pendaftaran di BPN

Dalam proses jual beli tanah melalui PPAT, terdapat sejumlah tahapan administrasi dan pemeriksaan yang perlu diperhatikan. Tahapan tersebut meliputi:

1. Pengecekan sertifikat di BPN. Pengecekan sertifikat merupakan kewenangan Kantor BPN sesuai dengan lokasi objek tanah yang akan diperjualbelikan. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui kesesuaian data sertifikat dengan data yang tercatat pada kantor pertanahan.

2. Permohonan informasi atau SKPT. Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) dapat dimohonkan untuk memperoleh informasi mengenai status tanah. Namun, SKPT umumnya digunakan dalam kebutuhan tertentu, seperti sertifikat yang menjadi jaminan atau objek yang akan dilelang.

3. Pemeriksaan data dan warkah. Setelah memperoleh informasi mengenai kesesuaian data pertanahan, termasuk warkah dan dokumen terkait, pemeriksaan dilakukan berdasarkan data yang tersedia di BPN. Dalam sistem yang telah terdigitalisasi, pengecekan sertifikat dapat dilakukan secara elektronik atau online.

4. Pengecekan online sebelum akad. Apabila hasil pengecekan menunjukkan kesesuaian data, proses dapat dilanjutkan ke tahap akad atau penandatanganan Akta Jual Beli (AJB), dengan tetap memenuhi persyaratan lainnya.

5. Pemeriksaan kondisi fisik dan tata batas. Apabila terdapat ketidaksesuaian tata batas atau letak antara data yuridis dan data fisik bidang tanah, para pihak perlu turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi sebenarnya sesuai dengan data pertanahan.

6. Pengurusan BPHTB dan pembayaran PPh. PPAT menunggu proses permohonan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) sesuai ketentuan yang berlaku.

7. Penomoran dan persiapan AJB. Akta jual beli dapat dipersiapkan untuk diberikan nomor setelah persyaratan terpenuhi, termasuk pengecekan sertifikat, BPHTB, PPh, dan PBB dalam kondisi lunas, serta validasi BPHTB dan PPh telah diselesaikan pada instansi yang berwenang.

8. Pendaftaran peralihan hak. Setelah tahapan administrasi dan perpajakan diselesaikan, proses dilanjutkan dengan mendaftarkan peralihan hak atas tanah ke Kantor BPN sesuai lokasi objek tanah.

9. Penerbitan dokumen pendaftaran. Dalam proses administrasi tersebut, pemohon memperoleh Surat Pendaftaran Akta (SPA) serta dokumen terkait pendaftaran setoran negara atau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

10. Proses administrasi dilaksanakan. Setelah seluruh persyaratan dan tahapan dipenuhi, proses pendaftaran peralihan hak dilaksanakan sesuai prosedur dan ketentuan pertanahan yang berlaku.

Sepuluh tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana suatu transaksi jual beli tanah diproses. Namun, terpenuhinya administrasi formal tidak dengan sendirinya menjawab seluruh persoalan mengenai riwayat kepemilikan, penguasaan, batas fisik, maupun kemungkinan adanya hak pihak lain atas tanah tersebut.

Minta BPN dan Pihak Terkait Buka Riwayat Tanah

Meriantony berharap pihak-pihak yang terlibat dalam proses transaksi maupun administrasi pertanahan dapat memberikan penjelasan secara menyeluruh, termasuk mengenai dokumen dasar penerbitan sertifikat, warkah, proses pengukuran, serta riwayat peralihan hak.

Menurutnya, keterbukaan informasi tersebut penting agar majelis hakim memperoleh gambaran yang utuh mengenai asal-usul dan proses hukum objek tanah yang kini menjadi sengketa.

Persoalan ini pun menjadi perhatian dalam proses pembuktian di Pengadilan Negeri Kalianda. Sebab, yang perlu diuji bukan hanya keberadaan sertifikat, melainkan juga rangkaian peristiwa dan dokumen yang menjadi dasar penerbitan serta peralihan hak atas tanah tersebut.

Dengan demikian, muncul pertanyaan mendasar: apakah sebelum transaksi dilakukan, pembeli telah memastikan kesesuaian data yuridis dan data fisik tanah, menelusuri riwayat kepemilikan, serta memastikan tidak terdapat hak pihak lain yang perlu diperhatikan?

Hingga berita ini diterbitkan, seluruh dugaan ketidaksesuaian prosedur maupun keabsahan transaksi tetap harus ditempatkan sebagai persoalan yang memerlukan pembuktian hukum. Keputusan mengenai sah atau tidaknya transaksi dan hak atas objek sengketa menjadi kewenangan majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut. (Red)

Share:

Sidang Korupsi, Mantan Kades di Lampung Selatan Menangis Bacakan Pledoi


BANDAR LAMPUNG – Terdakwa Isnaini, mantan Kepala Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, menangis saat membacakan nota pembelaan atau pledoi dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Tahun Anggaran 2024.

Dalam pembelaannya, Isnaini mengakui telah menggunakan uang Dana Desa untuk membayar jasa pengacara ketika dirinya menghadapi persoalan hukum.

Sidang pembacaan pledoi terhadap Isnaini dan Ansori, mantan Sekretaris Desa Bangunan, digelar di ruang sidang utama Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Tanjung Karang Kelas IA, Kamis (29/10/2026).

Dalam persidangan tersebut, masing-masing terdakwa membacakan nota pembelaannya atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Terdakwa Isnaini didampingi penasihat hukumnya dari LBH Al Bantani, Eko Umaydi, S.Kom., S.H., dan Adi Yana, S.H.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Firmansyah Khadafi Tjindarbumi, Isnaini menyampaikan bahwa selama dirinya menjabat sebagai kepala desa, sejumlah pembangunan telah dilakukan di Desa Bangunan, termasuk infrastruktur jalan.

Namun, ia mengakui adanya kesalahan yang menurutnya terjadi karena kekhilafan. Ia juga menjelaskan bahwa saat itu dirinya sedang menghadapi persoalan hukum yang dilaporkan ke Polda Lampung serta laporan dari lawan politiknya ke kejaksaan.

Menurut pengakuannya, situasi tersebut membuat dirinya harus mengeluarkan biaya untuk kepentingan hukum.

“Saya menggunakan uang yang ada Dana Desa itu untuk membayar jasa pengacara terdahulu saya,” ungkap Isnaini dalam persidangan.

Sambil meneteskan air mata, Isnaini memohon kepada majelis hakim agar menjatuhkan hukuman seringan-ringannya. Ia menyampaikan bahwa dirinya masih memiliki anak yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawabnya.

“Saya mohon kepada majelis hakim agar dihukum seringan-ringannya, mengingat saya masih memiliki anak yang masih kecil,” ucapnya.

Pembelaan tersebut menjadi bagian dari proses persidangan yang masih berjalan. Majelis hakim nantinya akan mempertimbangkan nota pembelaan para terdakwa, tanggapan jaksa, serta seluruh fakta dan alat bukti yang terungkap di persidangan sebelum menjatuhkan putusan.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum menuntut Isnaini bin Sasmita dengan pidana penjara selama 5 tahun 6 bulan dalam perkara dugaan korupsi APBDes Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Tahun Anggaran 2024.

Selain pidana penjara, Isnaini dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp563.385.812. Apabila harta bendanya tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut, jaksa menuntut pidana penjara pengganti selama 2 tahun 6 bulan.

Isnaini juga dituntut membayar denda sebesar Rp200 juta. Jika denda tidak dibayarkan, jaksa meminta agar diganti dengan pidana kurungan selama 80 hari.
Sementara itu, terdakwa Ansori bin Heruji, mantan Sekretaris Desa Bangunan, dituntut pidana penjara selama 4 tahun 6 bulan.

Ansori juga dituntut membayar denda sebesar Rp50 juta. Apabila denda tidak dibayarkan, tuntutan tersebut mencantumkan pidana kurungan pengganti selama 50 hari.

Untuk uang pengganti, Ansori dibebani kewajiban sebesar Rp87.821.400. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi sesuai ketentuan hukum, harta bendanya dapat disita dan dilelang. Apabila masih tidak mencukupi, jaksa menuntut pidana penjara pengganti selama 2 tahun.

Dalam surat dakwaan, JPU menguraikan bahwa para terdakwa diduga tidak membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ) atas seluruh kegiatan desa dan tidak melaporkan pelaksanaannya kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Lampung Selatan.

Berdasarkan hasil audit perhitungan kerugian keuangan negara yang dilakukan Inspektorat Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, perbuatan yang didakwakan kepada Isnaini dan Ansori disebut mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp651.009.762.

Besaran kerugian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perkara yang kini memasuki tahapan pembelaan terdakwa.
Meski demikian, tuntutan jaksa bukanlah putusan akhir. Status hukum kedua terdakwa akan ditentukan melalui putusan majelis hakim setelah seluruh tahapan persidangan selesai.

Sidang ditunda selama dua pekan dan dijadwalkan kembali pada Senin (9/11/2026), dengan agenda tanggapan Jaksa Penuntut Umum atas nota pembelaan atau pledoi para terdakwa. (*Red)

Share:

Polisi Ungkap Penyalahgunaan Solar Subsidi 8.400 Liter di Katibung, Tiga Orang Jadi Tersangka


LAMPUNG SELATAN -  Polres Lampung Selatan mengungkap penyalahgunaan pengangkutan dan/atau niaga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di Jalan Lintas Sumatera, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, Selasa (27/10/2026) dini hari.

Dalam pengungkapan tersebut,
Kapolres Lampung Selatan AKBP Deddy Kurniawan, S.H., S.I.K., M.M., M.Si  mengatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari informasi masyarakat mengenai dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi.

“Kami menemukan dua unit truk Hino berwarna hijau di Jalan Lintas Sumatera, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung. Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan 240 jeriken berisi sekitar 8.400 liter solar subsidi dan mengamankan delapan orang untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Deddy.

Dari delapan orang yang diamankan, polisi menetapkan tiga orang berinisial P (40), warga Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan; S (44), warga Kota Cilegon, Banten; dan MN (26), warga Kota Sukabumi, Jawa Barat, sebagai tersangka.

Pengungkapan kasus ini berawal dari penyelidikan yang dilakukan petugas pada Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 00.30 WIB di Jalan Lintas Sumatera, Desa Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan.

Di lokasi tersebut, petugas memeriksa dua unit truk Hino bernomor polisi B 9228 BEV dan B 9376 BEV. Dari pemeriksaan itu, polisi menemukan 240 jeriken berkapasitas masing-masing 35 liter yang berisi solar subsidi, dengan total volume sekitar 8.400 liter.

“Selain BBM dan kedua truk tersebut, polisi menyita satu unit mobil pikap Suzuki Carry berwarna putih bernomor polisi 8733 TT, satu mesin penyedot, serta uang tunai Rp 4.436.000 diduga berkaitan dengan aktivitas pengangkutan solar subsidi tersebut” lanjut AKBP Deddy

Atas perbuatannya, para tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah. Pasal tersebut mengatur penyalahgunaan pengangkutan dan/atau niaga BBM yang disubsidi pemerintah, dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling tinggi Rp 60 miliar. (*red)

Share:

Polisi Bersama Masyarakat, Polsek Katibung Temukan Tanaman Diduga Ganja di Ladang Warga


LAMPUNG SELATAN - Sinergi polisi dan masyarakat mengungkap temuan satu batang tanaman yang diduga ganja setinggi sekitar satu meter di sebuah ladang warga di Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (26/10/2026). Temuan tersebut berawal dari informasi warga yang ditindaklanjuti oleh personel Polsek Katibung.

Kapolsek Katibung IPTU Dita Hidayatullah, S.H., M.H., mewakili Kapolres Lampung Selatan AKBP Deddy Kurniawan, S.H., S.I.K., M.M., M.Si., menjelaskan bahwa tanaman tersebut ditemukan saat petugas melakukan pengecekan ke lokasi bersama perangkat desa.

“Petugas menemukan satu batang tanaman berwarna hijau yang diduga ganja, dengan tinggi sekitar satu meter, ditanam dalam pot plastik berwarna hitam. Tanaman tersebut ditemukan di ladang milik warga” ujar IPTU Dita.

Pengecekan dilakukan setelah polisi menerima informasi masyarakat mengenai dugaan tanaman ganja di ladang milik seorang warga berinisial R. Kapolsek Katibung IPTU Dita Hidayatullah turun langsung bersama personel untuk mengecek lokasi, didampingi Kepala Dusun Sebalang, Nur Alim.

Polisi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan meminta keterangan pemilik lahan serta mencari saksi-saksi lainnya untuk mendalami asal-usul tanaman tersebut.

Petugas juga berkoordinasi dengan Satresnarkoba Polres Lampung Selatan guna memastikan jenis tanaman dan menentukan langkah penanganan sesuai ketentuan hukum.

IPTU Dita mengimbau masyarakat agar segera melaporkan aktivitas mencurigakan yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), termasuk dugaan penyalahgunaan narkotika, melalui layanan Call Center Polri 110 atau Bhabinkamtibmas setempat. Partisipasi masyarakat diharapkan dapat mempercepat penanganan dan memperkuat sinergi antara polisi dan warga dalam menjaga keamanan lingkungan.
(Red)

Share:

Polres Lampung Selatan Bekuk Terduga Narkoba di Penengahan


LAMPUNG SELATAN - Satuan Reserse Narkoba Polres Lampung Selatan mengamankan seorang pria bernama SA (32) dalam pengungkapan dugaan penyalahgunaan narkotika di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (27/10/2026).

Dari hasil penggeledahan di rumah tersangka di Desa Kuripan, polisi menyita tiga paket plastik yang diduga berisi sabu, timbangan digital, serta sejumlah peralatan yang diduga berkaitan dengan penggunaan narkotika.

Kasat Narkoba Polres Lampung Selatan Iptu Rosali, mewakili Kapolres Lampung Selatan AKBP Deddy Kurniawan, mengatakan pengungkapan tersebut berawal dari penggerebekan yang dilakukan anggota Satresnarkoba di sebuah rumah di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan. Petugas kemudian mengamankan SA (32)  dan melakukan penggeledahan di kediamannya di Desa Kuripan.

“Dari hasil penggeledahan di rumah tersangka, anggota menemukan satu paket klip ukuran sedang dan dua paket klip kecil yang diduga berisi sabu. Petugas juga mengamankan timbangan digital, plastik klip kosong, telepon genggam, alat isap sabu, dua kaca pirek, serta uang tunai Rp1 juta,” kata Rosali.

Pengamanan Satria dilakukan pada Selasa sekitar pukul 16.00 WIB. Setelah diamankan, polisi melakukan penggeledahan di rumahnya untuk mencari barang bukti yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana narkotika tersebut.

“Selain tiga paket yang diduga berisi sabu, barang bukti yang disita meliputi satu unit telepon genggam Android, satu timbangan digital, satu bendel plastik klip kosong, satu alat isap sabu atau bong, dan dua kaca pirek. Polisi turut menyita uang tunai sebesar Rp1 juta” lanjut Rosali.

Selanjutnya, tersangka beserta seluruh barang bukti dibawa ke kantor Satresnarkoba Polres Lampung Selatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi masih perlu memastikan jenis dan berat narkotika melalui pemeriksaan barang bukti serta mendalami dugaan keterlibatan tersangka dalam perkara tersebut.

Atas dugaan tindak pidana itu, tersangka dipersangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika atau Pasal 609 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, sebagaimana tercantum dalam laporan kepolisian. (*/Red)

Share:

Popular

NASIONAL$type=complex$count=4

Arsip Blog

Recent Posts